Wednesday, March 1, 2017

Puisi Si Telur Dadar 😂😂😂

Penunggu Telur Dadar

Hembusan bayu yang bertiup lembut, sayu,
menyapa, seolah-olah menegurku,
Apa yang terbuku di benak mu?
Apa yang mengganggu fikiran mu?
Wahai bayu,
Mahukah kau tahu?
Betul kau mahu tahu?

Bayu,
Kadang aku tidak mengerti,
Akan percaturan Illahi,
Sering kali aku tertanya sendiri,
Di mana silap diri,
Bagaimana ini harus terjadi,
Sungguh aku tidak mengerti..

Wahai manusia,
Usahlah kau gundah gulana,
Bermuram durja,
Percayalah ini semua kehendakNya,
Tetapkan iman mu pada Yang Maha Esa,
InsyaAllah bahagia mu kan menjelma.

Bayu,
Sungguh benar katamu,
Namun sedikit aku tidak menyangka ini akan berlaku,
Ku kawal nafsu semampuku,
Semampuku.

Saban hari ku terjaga dari lenaku,
Sekuatnya ku paksa bibirku,
Mengukir sebentuk senyuman,
Walau kurang sedikit kemanisan,
Agar tiada y berprasangka yang bukan-bukan.
Aku ketawa, aku bergembira,
Mengharapkan kembali keceriaannya,
Bagi mengubat hatiku yang kecewa,
Melihat kembali senyumannya.

Wahai manusia,
Sabarlah...
Bersabarlah dengan dugaanNya,
Solat jangan di lupa,
Tanda kita mensyukuri nikmatNya.
DugaanNya sedikit cuma,
Tidak diuji hambaNya,
Di luar kemampuannya..

Nukilan,
Penunggu Telur Dadar
1 Mac 2017
12:42PM

Monday, February 27, 2017

Rindu

Sepi, ketika itu..
Kembali aku merindukanmu,
Gundah, resah, gelisah bermain-main di segenap lubuk kalbu,
Masih kuingat saat itu,
Ya, saat itu..
Saat kamu membunuhku dengan diam mu,
Namun, masih tetap kamu yang ku rindu,
Sangat rindu..

Rindu...
Ya, aku rindu..
Rindu gemersik suaranya..
Rindu bisik manjanya..
Rindu renggekannya..
Rindu senyumannya..
Rindu gelak tawanya..
Rindu renungannya..
Bahkan,
Aku rindu bebelannya,
Rindu rajukannya,
Rindu..rindu..rindu..
Ah, rindunya...

Suatu waktu,
Kau pernah tumbuh di hatiku,
Harum mu masih segar di ingatanku,
Dan akan terus mekar di sanubariku..
Walau kini kau menjauh dariku,
Izinkan aku tetap merindui mu..

Sayangku,
Ku selitkan rindu ini dalam tompokan batu,
Ku benamkan cinta ini dalam genang lautan,
Ku simpan rindu ini dalam istana pasiran pantai,
Sehingga....tiada penghujungnya..

Andai ada ruang rindu dalam dimensi relungku,
Andai ada sisa waktu dalam rinduku,
Dan andai ada gumpalan rindu dalam rongga dadaku,
Maka hanya kamu yang tahu,
Untuk siapa semua itu...

Masih, seketika ini,
masih aku terpaku,
retak muka remuk raga,
Merindukanmu seperti batu.

Sayangku,
Teringat saat pertama kita bertemu,
kau-kau, aku-aku,
Tidak ku tahu sejak bila hatik terpaku,
Terpaut padamu,
Namun, saban hari kau tak lepas dari pandanganku,
Tiadamu aku rindu,
Tanpamu aku jemu,
Watakmu mengusik jiwaku.
Walau kini kau tidak lagi bersamaku,
Namamu tetap dalam doaku,
Menitip kemas, jelas..

Kadang-kadang aku tertanya sendiri,
Apa erti semua ini?
Mengapa ini yang terjadi?
Sungguh aku buntu sendiri..
Aku terdiam memikirkan nasib diri,
Tapi aku mengerti,
Inilah didikan terus dari Illahi,
Mengajarku erti sendiri,
Sehingga aku cuba berdiri,
setelah tersungkur menunggu mati.
Aku menyesali kekhilafan diri,
Ampuni dosaku Ya Rabbi..
Ampuni dosaku Ya Rabbi..
Ampuni dosaku Ya Rabbi..